Magnitudo Bitang
Dengan berkembangnya fotografi, magnitudo bintang selanjutnya ditentukan secara fotografi. Pada awal fotografi, emulsi fotografi mempunyai kepekaan di daerah biru-ungu pada panjang gelombang sekitar 4 500 . Magnitudo bintang yang diukur dalam daerah warna biru disebut magnitudo fotografi (mfot). Sebagai contoh kita ambil perbandin- gan hasil pengukuran magnitudo visual dengan magnitudo fotografi untuk bintang Rigel dan Betelgeuse yang berada di rasi Orion. Rigel berwarna biru sedangkan Betelgeuse berwarna merah.
Perbandingan bintang Rigel dan Beteguese
Jadi untuk suatu bintang,
mvis berbeda
dari mfot. Selisih kedua magnitudo tersebut, dinamakan indeks warna (Color
Index CI).
CI = mfot - mvis
Makin panas atau
makin biru suatu
bintang, semakin kecil indeks warnanya. Distribusi energy spectrum
bintang Rigel
Distribusi energy spectrum
bintang Betelgeus
Dengan berkembangnya
fotografi, selanjutnya dapat dibuat pelat
foto yang peka terhadap daerah
panjang gelombang lainnya, seperti kuning, merah bahkan inframerah.Pada tahun
1951, H.L. Johnson dan W.W. Morgan
mengajukan sistem magnitudo yang disebut sistem UBV, yaitu :
U = magnitudo semu dalam daerah ultraviolet (panjang gelombang = 3500 )
B = magnitudo semu dalam daerah biru
(panjang gelombang = 4350 )
V = magnitudo
semu dalam daerah visual (panjang gelombang = 5550)
Berbagai Sistem Magnitudo
Magnitudo adalah
suatu
sistem skala ukuran kecerlangan bintang.
Sistem magnitudo
ini dibuat pertama kali oleh Hipparchus
pada
abad
2 sebelum masehi.
Dia membagi terang
bintang menjadi 6 kelompok berdasarkan penampakkannya dengan mata telan-
jang. Bintang yang
paling terang diberi
magnitudo 1 sedangkan bintang
yang paling
lemah yang bisa diamati oleh
mata telanjang diberi magnitudo
6. Hal yang perlu diper- hatikan
bahwa semakin terang suatu bintang,
semakin kecil magnitudonya. Kelemahan sistem ini adalah tidak adanya suatu standar baku
tentang terang bintang dan penentuan skala ini sangat
tergantung pada kejelian dan kualitas
mata
pengamat (karena
bersifat kualitatif ).
Ilmuwan
John
Herschel mendapatkan bahwa kepekaan
mata
dalam
menilai terang bintang bersifat logaritmik. Bintang
yang bermagnitudo 1 ternyata 100
kali lebih terang dibandingkan bintang
yang bermagnitudo 6. Berdasarkan fakta ini, Pogson merumuskan skala
magnitude
secara
kuantitatif. Hal ini menyebabkan sistem magnitudo semakin banyak digunakan
hingga saat ini. Skala Pogson untuk
magnitudo
(semu):
m1 - m2 = -2,5log(E1/E2)
dengan :
m1 : magnitudo
(semu) bintang 1
m2 : magnitudo
(semu) bintang 2
E1 : Fluks pancaran yang diterima pengamat
dari bintang
1
E2 : Fluks pancaran yang diterima pengamat
dari bintang
2
Harga acuan (pembanding
standar) skala magnitudo
mula-mula digunakan bintang Po- laris. Bintang Polaris ditetapkan memiliki magnitudo
2 dan bintang lainnya dibandingkan terhadap bintang
Polaris. Bintang
Polaris,
yang juga bintang kutub langit
utara, dipilih
karena bintang ini
terlihat dari
seluruh observatorium yang ada di belahan
bumi utara (karena
pada masa itu, belahan
bumi utara lebih berkembang dan maju secara teknologi).
Namun, bintang
ini ternyata memiliki kecerlangan yang berubah-ubah (Polaris
ternyata adalah sebuah
bintang variabel
Cepheid)
sehingga kecerlangan
Polaris tidak bisa
digunakan sebagai patokan/standar baku. Oleh
sebab itu, astronom menentukan bintang - bintang lainnya untuk dijadikan
standar.
a. Magnitudo Semu
Magnitudo
tampak
atau
semu (m) dari suatu
bintang, planet atau benda langit
lainnya adalah pengukuran dari
kecerahan atau
kecerlangan yang tampak yaitu
banyaknya cahaya yang diterima
dari objek itu.
m = -2,5 log E+ tetapan
dengan m:magnitude semu
b. Magnitudo Mutlak
Untuk menyatakan luminositas atau kuat sebenarnya sebuah bintang, kita
definisikan besaran
magnitudo mutlak,
yaitu magnitudo bintang
yang diandaikan diamati dari jarak10 pc.
M = -2,5 log E + tetapan
Dengan M : magnitudo mutlak
Dari rumusan Pogson kita dapat me-nentukan perbedaan magnitudo mutlak dua buah bintang
yang luminositasnya masing-masing
L1 dan L2, yaitu:
Untuk bintang
ke-1 :
Skala Pogson untuk
magnitudo mutlak (M) :
M1 - M2
= -2,5log(L1/L2)
dengan :
M1 : magnitudo mutlak bintang 1
M2 : magnitudo mutlak bintang 2
L1 : Luminositas bintang 1
L2 : Luminositas bintang 2
Hubungan antara magnitudo
semu (m) dan magnitudo mutlak (M) disebut modulus jarak.
m - M = -5 + 5 log d
dengan d adalah jarak bintang (dalam pc) dan
(m-M) disebut modulus jarak)
Tapi,
jika keberadaan serapan oleh materi antar bintang (MAB) tidak diabaikan, maka
persamaan modulus jaraknya :
m - M = -5 + 5 log d + AV
dengan AV : konstanta serapan materi antar
bintang.
Pada tahun 1951, H.L.
Johnson dan W.W. Morgan mengajukan sistem magnitudo yang disebut sistem UBV,
yaitu :
U = magnitudo semu dalam daerah ultraungu (λef = 3500 Å)
B = magnitudo semu dalam daerah biru ( λef = 4350 Å)
V = magnitudo semu dalam daerah visual ( λef = 5550 Å)
Dalam sistem UBV ini,
indeks warna adalah U-B dan B-V. Semakin panas suatu bintang, semakin kecil
nilai (B-V) nya.
Dengan Mbol = magnitudo mutlak bolometrik bintang
Mbol¤ = magnitudo mutlak
bolometrik Matahari (4,74)
MAGNITUDE ABSOLUTE (MUTLAK)
Untuk menyatakan
luminositas atau kuat sebenarnya sebuah bintang, kita definisikan besaran magnitudo
mutlak : magnitudo bintang yang diandaikan diamati dari jarak 10
parsec.
Skala Pogson untuk magnitudo mutlak ini adalah
Terang Bintang
Terang
suatu bintang dalam astronomi dinyatakan dalam satuan magnitudo. Hipparchus
(abad ke-2 SM) membagi terang bintang dalam 6 (enam) kelompok berdasarkan
penampakannya dengan mata telanjang. Bintang paling terang tergolong magnitudo
kesatu. Bintang yang lebih lemah tergolong magnitudo kedua. Dan seterusnya
hingga bintang paling lemah yang masih bisa dilihat dengan mata termasuk
magnitudo ke-6. Makin terang sebuah bintang, makin kecil magnitudonya
John
Herschel mendapatkan bahwa kepekaan mata dalam menilai terang bintang bersifat
logaritmik. Bintang yang magnitudonya satu ternyata 100 kali lebih terang daripada
bintang yang magnitudo-nya enam. Berdasarkan
kenyataan ini, Pogson (Norman Robert Pogson) pada tahun 1856 mendefinisikan skala
satuan magnitudo secara lebih tegas
Tinjau dua bintang :
Üm1 = magnitudo bintang ke-1
Üm2 = magnitudo bintang ke-2
ÜE1 = fluks bintang ke-1
ÜE2 = fluks bintang ke-2
Maka, skala Pogson
didefinisikan sebagai :
m1 – m2 = - 2,5 log (E1/E2)
Dengan
skala Pogson ini dapat ditunjukkan bahwa bintang bermagnitudo 1 adalah 100 kali
lebih terang daripada bintang bermagnitudo 6.
Jika m1 = 1 dan m2 = 6, maka
Secara umum rumus
Pogson dapat dituliskan :
m = -2,5 log E + tetapan
merupakan besaran lain untuk menyatakan fluks
bintang yang diterima di bumi per cm2 s-1
Harga tetapan
ditentukan dengan mendefinisikan suatu titik nol. Awalnya sebagai standar
magnitudo digunakan bintang Polaris yang tampak di semua Observatorium yang
berada di belahan langit utara. Bintang Polaris ini diberi magnitudo 2 dan
magnitudo bintang lainnya dinyatakan relatif terhadap magnitudo bintang
polaris. Tahun 1911, Pickering mendapatkan bahwa bintang Polaris, cahayanya
berubah-ubah (bintang variabel) dan Pickering mengusulkan sebagai standar
magnitudo digunakan kelompok bintang yang ada di sekitar kutub utara (North
Polar Sequence). Pada saat ini telah banyak bintang standar yang bisa
digunakan untuk menentukan magnitudo sebuah bintang, baik yang berada di langit
belahan utara, maupun di belahan langit selatan.
Magnitudo
Bolometrik
Sistem magnitudo yang sudah sebelumnya
hanya diukur menggunakan panjang
gelom-
bang tertentu saja.
Walaupun berbagai magnitudo tersebut dapat menggambarkan se-
baran energi
pada spektrum
bintang sehingga dapat memberikan petunjuk mengenai temperaturnya, namun belum dapat memberikan informasi mengenai sebaran
energi pada seluruh panjang
gelombang yang dipancarkan oleh suatu
bintang. Oleh karena itu, dibu- atlah sebuah sistem megnitudo yang disebut
dengan sistem magnitudo bolometrik (mbol) Magnitudo
bolometrik adalah
magnitudo rata-rata bintang diukur dari seluruh panjang gelombang
Magnitudo mutlak bolometrik
bintang sangat penting karena
dapat digunakan untuk mengetahui
luminositas
dari sebuah
bintang (energi total yang dipancarkan permukaan bintang
per detik)
dengan membandingkan magnitudo mutlak bintang
dengan magni- tudo mutlak bolometrik Matahari. Rumus Pogson untuk
magnitudo
bolometrik
adalah :
Cbol :tetapan
Perlu diingat
:
tanda
- (negatif ) pada
persamaan Pogson
diatas
menunjukkan
kecera- han bintang,
semakin kecil nilainya maka
bintang semakin terang.
Apabila
Mbol suatu
bintang dapat ditentukan, maka luminositasnya juga
dapat di- tentukan (dapat
dinyatakan dalan
luminositas Matahari).
Luminositas
sebuah bintang
merupakan parameter yang sangat
penting
dalam
teori evolusi bintang.Namun
magni-
tudo mutlak
bolometrik sangat susah ditentukan, karena
beberapa
panjang
gelombang tidak dapat menembus
atmosfer
bumi.
Oleh karena
itu untuk melakukan pengamatan
magnitudo bolometrik harus dilakukan di atas atmosfer.
Magnitudo
bolometrik dapat ditentukan secara teori berdasarkan
pengamatan di bumi. namun juga
dapat ditentukan secara tidak langsung, yaitu dengan memberikan koreksi pada magnitudo
visualnya,
yang disebut koreksi
bolometrik (Bolometric Correc- tion
BC).
mv - mbol = BC
atau dalam magnitudo mutlak dituliskan
Mv - Mbol = BC
Nilai BC tergantung
pada temperatur atau warna bintang.Untuk bintang yang sangat panas, sebagian besar energinya dipancarkan pada daerah ultraviolet,
sedangkan untuk bintang
yang sangat
dingin, sebagian
besar energinya dipancarkan pada daerah infram- erah (hanya sebagian kecil saja pada daerah visual). Untuk
bintang-bintang seperti ini,
harga BCnya bernilai besar,
sedangkan untuk
bintang-bintang yang temperaturnya sedang, yang mana sebagian besar radiasinya pada
daerah
visual)
harga
BCnya kecil,
seperti pada Matahari ±5300 angstrom.
Hubungan antara BC dan B
V untuk
deret utama dapat digambarkan dalam grafik berikut:
Diagram Hertzprung-Russel
Pada tahun
1911, seorang astronom
Denmark bernama
Ejnar
Hertzprung
(1873-1967)
membuat sebuah diagram
yang menghubungkan kecerlangan bintang dengan kelas spek- trumnya. Kemudian
pada 1913 seorang astronom
Amerika Serikat, Henry
Norris Russel (1877-1957) juga membuat
diagram
yang sama. Diagram ini akhirnya dikenal dengan sebutan diagram Hertzprung-Russel.
Diagram Hertzprung-Russel kemudian menjadi
salah satu perangkat utama bagi
para astronom dalam mempelajari bintang.
Dengan menggunakan diagram
ini, para astronom
banyak mendapatkan informasi tentang
bintang, seperti tahapan evolusi dan jaraknya. Awalnya diagram ini disusun berdasarkan kelas spektrum bintang,
maka bagian kiri dari diagram ini menunjukkan kedudukan bintang-bintang dengan temperatur tinggi. Pada
diagram Hertzprung-Russel tampak bahwa sebagian besar bintang
terletak
pada
posisi diagonal dari kiri atas
ke kanan bawah diagram.
Ini adalah hal
yang wajar karena pada umumnya bintang-bintang yang lebih terang
adalah
juga bintang
yang panas.
Daerah diagonal pada diagram Hertzprung-Russel kemudian
diberi nama
bagian
deret utama. Tidak semua bintang
ada pada posisi deret utama.
Ada
bintang-bintang yang berada pada sudut kanan atas, yang menandakan bahwa bintang ini terang namun dingin dan berwarna merah.
Ada juga bintang-bintang yang terletak di sebelah kiri bawah, yang menunjukkan sebuah bintang dengan suhu tinggi
namun tidak terlalu
terang. Karena bintang-bintang yang terletak di bagian
kanan atas adalah bintang-bintang yang terang meskipun
dingin,
ini berarti
bahwa kecerlangannya
yang besar
berasal dari luas
permukaan pemancar
radiasinya yang besar.
Para astronom menamai bintang-bintang yang berada pada
posisi ini sebagai bintang
raksasa
(giants).
Karena warnanya yang merah, namanya menjadi bintang raksasa merah. Selain
bintang raksasa
merah,
ada bintang
yang kecerlangannya
jauh
lebih tinggi
lagi walaupun juga
berwarna merah.
Kesimpu-
lannya, bintang ini
memiliki ukuran yang jauh lebih
besar dibandingkan dengan ukuran bintang
raksasa merah, maka dinamailah
bintang
semacam ini sebagai
bintang maharak- sasa merah(red supergiant).
Keadaan yang berbeda terjadi
pada bagian
kiri bawah dari diagram Hertz
prung Russel. Cahaya yang dipancarkan bintang-bintang disini lebih lemah meskipun temperaturnya tinggi. Ini
berarti luas permukaan
pemancar radiasi bintang ini
kecil, lebih kecil dari- pada luas
permukaan bintang deret utama yang bersuhu sama.
Bintang-bintang yang ada di bagian kiri bawah ini kemudian disebut sebagai bintang kerdil
putih karena ukurannya yang kecil dan berwarna
putih.
Diagram Hertzprung-Russel juga bisa dipakai sebagai alat
untuk menentukan jarak bin- tang.
Cara
penentuan jarak semacam ini disebut metode paralaks spektroskopik.
Mis- alkan kita menemukan sebuah bintang bertipe G2 yang terletak di deret utama dan memiliki magnitudo
tampak
(m) sebesar +8.
Dengan
informasi ini, jarak bintang
bisa ditentukan, karena
magnitudo
mutlak (M)
bintang bisa kita tentukan dengan melihat diagram Hertzprung-Russel. Bila magnitudo tampak dan magnitudo mutlak diketahui,
maka jarak (d) bintang dalam satuan parsek dapat
langsung diketahui (menggunakan
rumus m M = -5 + 5
log d).
Namun
demikian, kelas spektrum
suatu
bintang terkadang
tidak
terlalu
jelas menun-
jukkan magnitudo mutlak bintang
itu.
Penyebabnya, kadang-kadang terdapat
beberapa bintang yang memiliki kelas spektrum
sama
tetapi
kecerlangannya berbeda. Oleh
se- bab itu, dibuatlah sebuah klasifikasi yang
lebih detail dengan
memperhatikan tingkat
luminositas untuk membedakan
bintang-bintang yang kebetulan
memiliki tipe spektrum
yang sama. Dengan
cara ini akan kelihatan,
apakah bintang
itu suatu bintang
raksasa, maharaksasa, atau bintang
deret utama.
Klasifikasi bintang
menurut tingkat luminositas yang paling
banyak dipakai adalah klasi- fikasi yang dibuat
oleh W.W.
Morgan dari Observatorium
Yerkes. Ia membagi tingkat luminositas bintang menjadi enam tingkatan, mulai dari golongan Ia (maharaksasa
yang amat
terang), Ib (maharaksasa yang terang),
II (raksasa
terang),
III (raksasa),
IV (sub- raksasa),
dan terakhir golongan V (bintang deret utama). Selain dipakai untuk
menen- tukan
jarak,
posisi pada diagram
Hertzprung-Russel juga menunjukkan tingkat evolusi
sebuah bintang. Ini
dikarenakan pada saat berevolusi, kecerlangan dan temperatur permukaan
bintang terus
berubah.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar